Motivasi dari Manusia Gunungkidul

23:09

Dokumen pribadiTerlahir menjadi salah satu cucu dari tentara membuat semua alur kehidupan saya sejak kecil berpindah-pindah tempat, tidak terlalu banyak memang. Tapi bagi keluarga ayah dan ibu saya harus sangat sering berpindah kota, karena kakek sering ditugaskan di beberapa kota yang terlalu sering dan terpaksa seluruh rombongan keluarga harus ikut berpindah kota pula. Tak heran jika seluruh om dan tante saya memiliki keterangan tempat lahir yang sangat bervariasi, tidak ada satupun yang sama persis dilahirkan di satu kota.

Jika melihat asal usul keluarga saya, dan seandainya kakek saya bukan bagian dari angkatan bersenjata Indonesia, mungkin saja saya saat ini masih berada di dalam pelosok Kutoarjo, berada di atas kerbau sambil membaca buku usang. Atau mungkin saya tidak akan ditakdirkan untuk berada di bumi, karena ayah dan ibu tidak dapat bertemu karena dipisahkan dengan jarak.

Tapi, sekali lagi saya tidak diberikan garis takdir untuk hidup di pelosok Kutoarjo. Sejak kecil saya sudah berada di kota Metropolitan, digariskan untuk mengenal modernitas sejak dilahirkan. Bukan dibuat lupa dengan adanya daerah yang masih tertinggal dengan segala keterbatasannya, yang bahkan sinyal TV saja baru masuk di dekade yang lalu, itu pun harus menggunakan penerima sinyal secara digital agar menjangkau lebih sempurna.

Tetapi karena memang saya sama sekali tidak mengenal apa itu "kampung", rumah sederhana dengan lantai beralaskan tanah memang sudah sejak lama ditinggal. Sebenarnya saya pernah sekali merasakan pulang ke Kutoarjo, walaupun hanya sebentar tetapi itu juga sudah lupa karena pada saat itu saya terlalu kecil untuk menyimpan memori saat berada di kampung.

Kakek dan nenek lebih memilih untuk menetap di sudut kota Rawamangun, yang membuat saya dan sekeluarga besar tidak lagi merasakan apa itu riuhnya tradisi mudik saat lebaran. Merasakan derita seluruh pemudik untuk kembali ke "Jawa". Sekali lagi tidak, saya hanya cukup mengarungi jalur lingkar dalam dengan waktu satu jam saja untuk mudik, itu pun nihil dengan kemacetan yang biasanya mewarnai Jakarta.

Apakah saya terbersit sedikit niat untuk mengajak seluruh keluarga untuk balik ke Kutoarjo? 100% tidak. Untuk apa? Kita sekeluarga besar sudah nyaman berada di lingkaran kota besar, sudah dimanjakan dengan teknologi, tumbuh berkembang sebagai digital boy yang sudah mengenal dunia digital sejak sekolah menengah. Siapa juga yang akan menyangkal pendidikan yang sudah terjamin di kota besar, kehidupan yang benar-benar dijalani dengan cara yang mudah. Jika mau dibandingkan, manusia malas sebenarnya akan lebih banyak ditemukan di kota. 

Hampir tiga dekade sudah saya hidup sebagai anak kota, pada akhirnya saya harus juga merasakan bagaimana kehidupan di pelosok desa yang jauh dari gemerlap kota, sejak meminang pasangan hidup yang asal-usulnya berasal dari tengah hutan timur Yogyakarta, Gunung Kidul. Secara singkat memang, tapi di umur yang sudah cukup dewasa saya sudah pasti mampu memaknainya dengan baik, bagaimana kehidupan di "Jawa", yang jauh dari kesan glamor.
Bahkan pertama kalinya saya melihat resepsi pernikahan yang digelar dengan cara sederhana ala "orang kampung", bukan digelar di gedung, rumah dengan dekorasi tenda meriah, melainkan pesta di rumah yang berada di tengah-tengah deretan hutan jati. Bukan dekorasi dengan kain-kain yang digumpalkan dan bertumpuk seperti halnya dekorasi orang kota, tapi sesuai dengan apa yang dinyanyikan Desi Ratnasari yaitu tenda biru, bentangan terpal biru yang disangga dengan bambu. Dengan hidangan yang juga sederhana, rebusan pisang menjadi panganan yang paling mewah di acara ini.

Tapi kesederhanaan itu sudah berada di tengah era majunya bangsa, sadar dengan potensi daerah yang cukup baik. Walaupun masih berada di tengah hutan tak membuat mayoritas penduduk ini kehilangan kesempatan. Berada di mulut jalur wisata edukasi Goa Pindul, membuat sebagian masyarakat memanfaatkan momen untuk menjadi pemandu, walaupun juga dengan bayaran seikhlasnya. Jangan heran jika di daerah ini cukup banyak retribusi yang dipungut warga, jangan juga Anda protes, karena jika disadari itu bagian dari bentuk mensejahterakan masyarakat yang jauh dari kota.

Tersadar, ini yang tidak dimiliki kota-kota besar, sudah lebih dari dua dekade rasanya deretan beton yang menjulang tinggi ke angkasa penghias kota Jakarta masih kalah jauh dengan indahnya Goa yang berada di tengah hutan. Terbentuk dengan cara yang alami tanpa campur tangan manusia, objek wisata edukasi ini terbentuk. Warga Darwis mereka menyebutnya, bagi sebagian warga sekitar yang sudah sadar dengan potensi wisata di kampung mereka, tentunya peluang ini akan sangat meningkatkan ekonomi warga sekitar. Berkat para peneliti dari UGM yang berniat untuk meneliti ribuan stalakmik dan stalaktik serta kedalaman air yang ada di Goa Pindul yang mampu menggugah warga untuk menjadikannya objek wisata.
Iseng ngajak keluarga yang sebenarnya asli sini, malah belum pernah ke sini | Dok. KevinalegionYang perlu ditandai, Goa ini sebenarnya masih dianggap sakral bagi beberapa warga yang ada di sana. Mitosnya masih mewarnai sepanjang objek wisata ini mulai terkenal hingga sekarang, dari tempat bertapa hingga mitos sosok ular besar yang mendiami Goa ini menjadi bumbu tersendiri saat Anda mengarunginya. Dan yang perlu jadi catatan, saudara dari istri saya yang benar-benar lahir dan besar di Karangmojo ini bahkan belum pernah memasuki Goa ini, terlalu banyak cerita mistis, mengerikan yang membuat warga asli di sana pun enggan untuk menjajakinya.

Perlu bujukan ekstra agar saudara istri saya ini mau menemani kita yang penasaran dengan wisata yang selalu membludak ketika musim lebaran tiba. Saat artikel ini saya buat, berita yang kurang mengenakkan tayang, salah satu pemandu dikabarkan menghilang, mudah-mudahan segera ditemukan dan tidak mengurangi animo masyarakat untuk mengunjungi wisata edukatif ini. (Kompas.com: Seorang Pemandu Wisata Goa Pindul Hilang Saat Bertugas)
Pemandu Pindul ini hanyalah awal dari kekaguman saya akan kegigihan dari masyarakat yang ada di kampung ini. Tak perlu jauh-jauh melihat keluar, saya merasakan betul bagaimana perjuangan mertua saya bertahan di tengah hutan seperti ini, dan pada akhirnya menjadi salah satu orang sukses di Jakarta.

Waktu saya masih memegang status sebagai murid sekolah dasar, yang saya lakukan cukup belajar dengan benar, soal transportasi ada mobil jemputan yang setia mengantarkan kembali sampai di rumah. Tapi bagaimana dengan mertua saya pada saat sekolah dasar? Mulai pukul 1 pagi. Iyap, pukul 1 pagi bukan siang, ketika anak seumur tersebut sudah terlelap mengisi tenaga untuk persiapan hari esok, masa kecil mertua saya pada jam tersebut sudah memulai harinya, mengawali dengan mencari kayu bakar, selanjutnya mengarungi hutan Gunungkidul agar tetap tiba tepat waktu di sekolah satu-satunya yang ada di kecamatan Wonosari. Saya? di umur sedewasa ini saja saya ngeri-ngeri sedap masuk hutan sendirian, jika seandainya saya menggantikan posisinya mungkin saya lebih memilih untuk tetap membantu orang tua menjadi petani saja dibandingkan sekolah.

Dan hal tersebut terus diulangi hingga mencapai Sekolah Menengah Atas, saya benar-benar sulit membayangkan bagaimana kondisi pada saat itu jika dibandingkan nikmatnya hidup di kota. Jangan bayangkan dengan kondisi saat ini, ketika mobil kelas premium pun saat ini mampu dibeli dengan mudah oleh siapa saja, motor pada saat itu adalah barang yang paling mewah yang pernah ada, mengalahkan teknologi TV hitam putih yang menakjubkan pada zamannya. Jika mau sekolah, semua harus dilakukan dengan kaki. Jika ada yang pernah melewati jalur menuju Goa Pindul, itulah rute yang dilalui mertua saya setiap dini harinya dengan berjalan kaki, dan dulu belum diaspal masih jalur bebatuan, dan deretan hutan jati yang akan menjadi kawan di setiap langkahnya.Salah satu deretan pantai yang ada di Kabupaten Gunungkidul dan berhasil menjadi destinasi wisata favorit | Dok. KevinalegionTak berbeda jauh, ibu mertua saya pun menjadi gadis yang juga menjadi pejuang hutan ini. Dan beruntungnya, Ibu mendapatkan pasangan yang gigihnya, semangatnya luar biasa ambisius, dan percaya kerja keras dan kesuksesan akan membawa perubahan di daerahnya, akan membawa semangat positif untuk sama-sama bergerak. Apa yang terlihat saat ini, dengan jalan yang sudah dibeton adalah salah satu bentuk kesuksesan kecil dari manusia-manusia asal hutan Gunungkidul. Rela meninggalkan kampung untuk bertarung di tengah kota. Seandainya Bapak mau jadi Calon Bupati Gunungkidul mungkin akan meraih dukungan yang tidak sedikit, dan saya mungkin yang akan menjalankan campaignnya secara digital, hahaha --Intermezzo, Intertoto.

Walaupun dengan sifat kolotnya khas orang tua yang kaget hidup di masa kini, saya tetap menaruh hormat yang sebesar-besarnya atas kegigihannya yang sangat menginspirasi, minimal di kehidupan saya. Kegigihan manusia-manusia Gunungkidul ini yang akan selalu mengingatkan, segala harapan harus tetap diperjuangkan hingga harapan tersebut mencapai titik batasnya.

Ketika pekerjaan terasa lebih berat, ketika kehidupan semakin terasa menjemukan, ketika kemacetan ibukota terasa membosankan, saya harus selalu ingat ada pejuang yang pernah bertahan ketika mendapatkan ilmu itu terasa sangat mustahil, ada pejuang yang mampu mengarungi kehidupannya mulai dari dini hari, ada pejuang yang berhasil dengan hanya modal berjalan kaki. Iya, Bapak mertua saya sendiri. Semua dilakukan hanya untuk keluarga yang lebih baik, dan kehidupan masyarakat yang jauh lebih mengenal kehidupan yang lebih luas.

Seandainya bapak mertua saya tidak melakukan semua hal ini, mungkin istri saya saat ini masih menjadi gadis desa dan mengisi seluruh aktivitas kehidupannya dengan memasak jagung dengan kayu bakar, atau mungkin juga bertani kayu putih, atau menunggu tahun-tahun berganti dan menunggu keajaiban seluruh pohon jati yang ditanam sejak dini mampu menghasilkan pundi-pundi.


---
Artikel ini super duper latepost, harusnya tayang setelah saya mudik. Saya baru sadar artikel ini masih ada di draft belum ditayangkan, meeeehhhh.

You Might Also Like

0 comments